Saturday, October 18, 2014
Berlangganan

2 Legenda batu di Indonesia yang miliki bentuk mirip sisik naga

Naga adalah sosok mitologi yang sampai sekarang belum dapat dibuktikan kebenaran akan eksistensinya. Khususnya di Indonesia, beberapa prasasti sampai dengan kebudayaan juga memiliki keterkaitan dengan sosok satu ini.
Dari beragam cerita-cerita tentang naga di Indonesia, setidaknya ada dua daerah yang memiliki mitos kuat bahwa pada zaman dahulu kala ada sosok ular yang sangat besar dan mendiami tempat tersebut.
Watu Ulo
Mitos pertama adalah yang ada dan dipercaya oleh warga di Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember yaitu Watu Ulo. Meski mitos ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah, namun ada fakta-fakta unik yang membuat masyarakat percaya dengan mitos tersebut. Salah satunya adalah bahwa panjang batu yang seperti ular tersebut diketahui sangat panjang dan besar.
Konon, dipercaya bahwa wilayah pantai selatan tersebut dihuni oleh seekor ular yang sangat besar bernama Nogo Rojo. Hewan besar ini memiliki sifat yang sangat rakus dengan memakan semua ikan dan binatang lain yang ada di daerah tersebut sehingga masyarakat tidak bisa mencari makanan karena telah habis.
Lantas, tersebutlah dua orang pemuda bernama Raden Said dan Raden Mursodo yang bersaudara. Kedua pemuda tersebut adalah anak angkat dari Nini dan Aki Sambi, pasangan yang sudah berusia cukup tua. Raden Said dalam cerita ini dipercaya sama dengan Raden Said yang nantinya dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga.

Singkat cerita, legenda mengatakan bahwa kedua pemuda tersebut memancing di tempat Nogo Rojo tinggal. Karena semua hewan di sana telah dimakan oleh Sang Ular Raksasa, maka kedua pemuda tersebut tak berhasil mendapatkan ikan satu pun. Hingga akhirnya, kail Raden Mursodo berhasil mengait satu ikan yang disebut ikan mina.
Ikan mina itu ternyata bisa berbicara. Dia meminta agar dilepaskan dan tidak dibunuh untuk dijadikan makanan. Sebagai gantinya, ikan mina tersebut akan memberikan sisik yang bisa berubah menjadi emas untuk Raden Mursodo. Raden Mursodo menyetujuinya dan melepas ikan mina itu kembali ke laut.
Namun tak berapa lama kemudian, ternyata muncullah Nogo Rojo dan langsung memakan ikan mina yang sudah dilepaskan oleh Raden Mursodo. Geram, Raden Mursodo segera melawan Sang Ular Raksasa dan membelah tubuhnya menjadi tiga bagian. Inilah yang menjadi asal-muasal terbentuknya Watu Ulo di pantai Jember.
Saking besarnya, tiga bagian ular raksasa itu terpencar. Bagian badannya berada di Pantai Watu Ulo Jember, bagian kepalanya berada di Grajakan Banyuwangi, dan bagian ekornya berada di Pacitan. Potongan tubuh Nogo Rojo itulah yang kemudian hingga saat ini dipercaya menetap di pantai Watu Ulo dan menjelma menjadi batu-batuan yang menjorok ke laut.

Meski mitos ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah, namun ada fakta-fakta unik yang membuat masyarakat percaya dengan mitos tersebut. Salah satunya adalah bahwa panjang batu yang seperti ular tersebut diketahui sangat panjang dan besar.

Tapaktuan
Legenda Tapaktuan ini adalah cerita rakyat Tapak Tuan, Aceh Selatan. Dalam cerita tersebut mengisahkan ada sepasang naga jantan dan betina yang mendapatkan seorang bayi manusia yang kala itu sedang terombang-ambing di lautan yang ganas di atas sebuah perahu.
Dikarenakan memang kedua naga ini sudah lama ingin memiliki anak, maka mereka berdua memutuskan untuk mengambil bayi tersebut sebagai anak mereka dan diberikan nama Putri Bungsu.
Tahun ke tahun berlalu, Putri Bungsu tumbuh dewasa dan menjadi seorang wanita yang cantik. Singkat cerita, Putri Bungsu akhirnya mengetahui bahwa dia bukanlah anak kandung dari dua naga itu dan mendapatkan informasi bahwa dia adalah anak raja. Oleh karenanya dia melarikan diri untuk kembali ke orang tuanya yang asli.

Tentu saja karena pelariannya itu, kedua naga tersebut marah dan berusaha mengejar Putri Bungsu. Di tengah aksi saling kejar tersebut, muncul seorang petapa sakti yang bernama Tuan Tapa.
Dia ingin menghentikan kedua naga tersebut karena memang Putri Bungsu adalah seorang manusia dan tidak mungkin dilahirkan oleh naga. Oleh karena itu, Tuan Tapa akhirnya bertempur mati-matian melawan kedua naga tersebut.
Karena kalah kesaktian, naga jantan dipukul oleh Tuan Tapa dengan menggunakan tongkat hingga hancur berkeping-keping. Tubuh naga yang hancur tersebut berserakan dan menjadi batu, sedangkan naga betina juga tidak dapat menandingi kesaktian Tuan Tapa dan melarikan diri.

merdeka

This work is licensed under a Creative Commons license.